Pencarian

PT Astra International Tbk Catat Laba Otomotif Naik 9 Persen di Semester I 2026

Rabu, 05 Agustus 2026 • 16:30:00 WIB
PT Astra International Tbk Catat Laba Otomotif Naik 9 Persen di Semester I 2026

PT Astra International Tbk (Astra) mencatat laba bersih bisnis Otomotif naik 9 persen menjadi Rp5,9 triliun pada semester I 2026. Kenaikan ini menjadi salah satu sorotan utama dari laporan kinerja Grup Astra periode Januari-Juni 2026.

Bisnis Jasa Keuangan juga tumbuh sejalan, dengan laba bersih naik 6 persen menjadi Rp4,6 triliun. Kedua sektor ini menopang kinerja Astra di tengah tekanan pada bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat.

Presiden Direktur Astra Rudy menyampaikan pertumbuhan dua bisnis tersebut mencerminkan daya tahan Grup Astra dalam menghadapi kondisi pasar yang dinamis.

"Pada semester pertama 2026, Grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis Otomotif dan Jasa Keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis Solusi Pertambangan & Alat Berat mengakibatkan penurunan laba bersih Grup secara keseluruhan," ujar Rudy dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).

Secara konsolidasian, Astra membukukan pendapatan bersih Rp157,9 triliun, turun 3 persen dari Rp162,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih tanpa non-recurring items tercatat Rp14,9 triliun, turun 7 persen dari Rp16 triliun.

Setelah memperhitungkan pos nonberulang senilai Rp2,4 triliun—terutama dari penyesuaian nilai wajar investasi ekuitas dan impairment—laba bersih Grup Astra tercatat Rp12,5 triliun. Laporan keuangan per 30 Juni 2026 ini belum diaudit dan disusun sesuai Standar Akuntansi Keuangan Indonesia.

Penjualan Mobil dan Motor Tumbuh Positif

Di sektor Otomotif, penjualan mobil nasional naik 16 persen menjadi 437.000 unit, sementara penjualan mobil Grup Astra tumbuh 10 persen. Astra tetap mempertahankan pangsa pasar mobil 51 persen, dengan Toyota dan Daihatsu di posisi teratas merek terlaris.

Penjualan sepeda motor nasional naik tipis 1 persen menjadi 3,1 juta unit, sejalan dengan pertumbuhan penjualan motor Honda sebesar 1 persen dan pangsa pasar 77 persen.

Divisi Komponen mencatat lonjakan kontribusi laba bersih 23 persen menjadi Rp921 miliar, didukung peningkatan di seluruh segmen. Divisi Mobilitas juga tumbuh: penjualan mobil bekas naik 4 persen menjadi 15.700 unit, dan kendaraan dalam kontrak bertambah 13 persen menjadi 29.200 unit.

Jasa Keuangan dan Segmen Lainnya

Nilai pembiayaan baru dari divisi pembiayaan konsumen tumbuh 10 persen menjadi Rp61,8 triliun, didorong pembiayaan otomotif dan multi-cycle. Divisi pembiayaan sepeda motor menyumbang laba bersih Rp2,4 triliun (naik 4 persen), sementara pembiayaan mobil tumbuh 6 persen menjadi Rp1,2 triliun.

Pembiayaan alat berat naik 1 persen menjadi Rp8,1 triliun dengan laba bersih naik 11 persen menjadi Rp130 miliar. Perusahaan asuransi Grup Astra turut tumbuh 7 persen menjadi Rp906 miliar.

Segmen Lain-lain yang mencerminkan Wider Businesses Grup tumbuh 31 persen menjadi Rp1,6 triliun, ditopang agribisnis dan properti. Sebaliknya, Solusi Pertambangan dan Alat Berat turun 46 persen menjadi Rp2,7 triliun akibat minimnya penjualan emas Tambang Emas Martabe dan penurunan kuota batu bara RKAB. Martabe sempat berhenti beroperasi awal 2026 sebelum kembali aktif di kuartal II.

Buyback Saham dan Strategi Baru

Astra dan PT United Tractors Tbk (UT) menyiapkan dana hingga Rp10 triliun untuk program buyback saham. "Astra telah mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp8 triliun untuk 12 bulan ke depan, yang telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 17 Juli 2026. Selain itu, UT juga mengumumkan program pembelian kembali saham baru hingga Rp2 triliun untuk tiga bulan ke depan," ujar Rudy.

Sebelumnya, kedua perusahaan telah menuntaskan buyback senilai Rp7,4 triliun sejak November 2025 hingga Juni 2026. Astra juga menjalankan management share ownership program (MSOP) pada Juli 2026 untuk menyelaraskan insentif manajemen dengan penciptaan nilai jangka panjang.

Langkah ini sejalan dengan Strategy Roadmap baru Astra yang diumumkan Mei 2026, memfokuskan Grup pada tiga bisnis inti: Otomotif, Jasa Keuangan, serta Solusi Pertambangan dan Alat Berat, dengan empat pilar Focus, Clarity, Discipline, dan Commitment.

"Di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut, kami tetap fokus untuk menjalankan strategi korporasi kami yang baru. Kami yakin terhadap keunggulan operasional, resiliensi dan kekuatan neraca keuangan Astra, yang didukung oleh alokasi modal yang disiplin dalam menghadapi berbagai tantangan bisnis," kata Rudy.

Nilai aset bersih per saham Astra tercatat Rp5.763 pada 30 Juni 2026, naik 1 persen, sementara ekuitas yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik 1 persen menjadi Rp230,1 triliun.

Follow www.lintasbengkulu.id

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks