BENGKULU — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya gempa bumi tektonik dengan magnitudo 5,5 yang menggunakan wilayah tenggara Enggano, Bengkulu, pada Minggu pukul 22.15 WIB. Getaran terasa cukup signifikan di sebagian wilayah pesisir barat Sumatra, namun hingga saat ini belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan maupun korban jiwa.
Episenter gempa terletak di laut pada jarak 84 kilometer tenggara Enggano dengan koordinat 5,92 derajat lintang selatan (LS) dan 102,77 derajat bujur timur (BT). Kedalaman hiposenternya tercatat 40 kilometer, yang dikategorikan sebagai gempa dangkal akibat aktivitas subduksi lempeng.
BMKG: Getaran Tidak Berpotensi Tsunami
Kepala BMKG melalui rilis resminya menegaskan bahwa gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Analisis mekanisme sumber sementara menunjukkan adanya deformasi batuan di zona megathrust, namun energi yang dilepaskan tidak cukup besar untuk memicu gelombang laut yang membahayakan.
"Data yang kami sampaikan mengutamakan kecepatan, sehingga hasil pengolahan parameter gempa masih dapat berubah seiring dengan kelengkapan data yang masuk," tulis BMKG dalam keterangan resminya, Senin (16/12).
Mengapa Indonesia Sering Diguncang Gempa?
Kejadian ini kembali mengingatkan bahwa wilayah Indonesia merupakan salah satu kawasan paling rawan gempa di dunia. Hal ini disebabkan posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik besar, yaitu Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik.
Pergerakan relatif antar lempeng ini menciptakan akumulasi energi yang suatu saat dilepaskan dalam bentuk gempa bumi. Wilayah barat Sumatra, termasuk Bengkulu dan Kepulauan Enggano, menjadi salah satu segmen paling aktif karena menjadi titik tumbukan langsung Lempeng Indo-Australia yang menyusup ke bawah Lempeng Eurasia.
Belum Ada Laporan Kerusakan, Warga Diminta Tetap Tenang
Hingga berita ini diturunkan, BPBD Provinsi Bengkulu belum menerima laporan resmi mengenai dampak kerusakan dari kejadian ini. Meski demikian, masyarakat di pesisir diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan yang umumnya berkekuatan lebih kecil.
"Kami mengimbau warga untuk tidak terpancing isu yang tidak bertanggung jawab mengenai tsunami. Pastikan informasi gempa hanya bersumber dari kanal resmi BMKG," demikian pernyataan yang disampaikan dalam rilis tersebut.