BENGKULU — Kepergian Xaysomphone Phomvihane meninggalkan duka mendalam bagi institusi politik Laos. Pernyataan bersama yang dirilis partai, parlemen, pemerintah, dan pihak keluarga menyebutkan masa berkabung nasional akan berlangsung mulai Ahad (9/8).
Kabar duka ini pertama kali disampaikan melalui kantor berita negara, Lao News Agency, yang menyebut almarhum sebagai pemimpin luar biasa dan salah satu tokoh kunci Komite Sentral Partai.
Karier Panjang Seorang Negarawan Kader Senior
Xaysomphone Phomvihane bukan nama asing di panggung politik Laos. Sebelum memimpin Majelis Nasional, ia tercatat menempuh pelatihan militer dan politik di Vietnam serta Uni Soviet—dua negara yang memiliki ikatan historis kuat dengan rezim komunis di Vientiane.
Sepanjang kariernya, almarhum dipandang sebagai sosok yang berpengetahuan luas. Lao News Agency menyoroti pengalaman kepemimpinannya yang mendalam, tidak hanya di pemerintahan pusat tetapi juga di berbagai pemerintahan daerah dan sektor-sektor strategis lainnya.
Penyakit Autoimun yang Merenggut Nyawa
Penyebab kematian yang diumumkan resmi adalah vaskulitis, sebuah kondisi langka di mana sistem kekebalan tubuh justru menyerang pembuluh darah sendiri. Penyakit ini menyebabkan peradangan yang dapat mengganggu aliran darah ke organ-organ vital.
Kabar wafatnya ketua parlemen ini menjadi perhatian serius di kawasan Asia Tenggara, mengingat posisi strategis Xaysomphone Phomvihane dalam struktur kekuasaan Laos yang menganut sistem satu partai.
Rangkaian Upacara Pemakaman Kenegaraan
Upacara pemakaman resmi dijadwalkan berlangsung di Vientiane pada 13 Agustus. Selama masa berkabung nasional, seluruh institusi pemerintahan dan masyarakat Laos diimbau untuk menghormati prosesi duka ini.
Kepergian Xaysomphone Phomvihane terjadi di tengah transisi kepemimpinan di Laos yang terus diperhatikan negara-negara tetangga, termasuk Indonesia yang memiliki hubungan bilateral erat melalui kerangka kerja sama ASEAN.