145 Petani Sawit dari 3 Kabupaten di Bengkulu Ikuti Pelatihan SDM Perkebunan 2026, Targetkan Rendemen Naik di Atas 20 Persen

Penulis: Ragil  •  Senin, 10 Agustus 2026 | 13:03:41 WIB
petani sawit dari tiga kabupaten di Bengkulu mengikuti pelatihan SDM perkebunan untuk meningkatkan rendemen di atas 20 persen.

BENGKULU — Pelatihan ini dirancang tidak sekadar memberikan teori, tetapi juga pendampingan intensif hingga enam bulan ke depan. Para peserta akan dibekali teknik budidaya kelapa sawit dan pemetaan lokasi perkebunan menggunakan sistem digital.

Direktur Utama DG Learning Institute, M. Gema Alize Putra, menegaskan bahwa keberhasilan program diukur dari implementasi ilmu di lapangan, bukan sekadar kehadiran peserta. Pihaknya menyiapkan monitoring pasca pelatihan selama tiga hingga enam bulan.

"Tujuan utama kami adalah memastikan ilmu yang diterima peserta benar-benar dapat diterapkan di kebun masing-masing. Kami ingin petani memperoleh pengetahuan baru tentang teknik budidaya yang baik, pemupukan yang tepat, hingga pemetaan lahan yang akurat," ujar Gema.

Rendemen Sawit Bengkulu Tertinggal 2 Persen dari Provinsi Tetangga

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Hj. Serlin Despita, membeberkan data yang menjadi dasar pentingnya pelatihan ini. Luas perkebunan rakyat kelapa sawit di Bengkulu mencapai lebih dari 330 ribu hektare dengan produksi CPO sekitar 1 juta ton per tahun.

Angka produksi tersebut menempatkan Bengkulu sebagai salah satu penghasil sawit terbesar di Sumatera. Namun, Serlin mengakui kualitas produksi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah.

"Produksi kita memang tinggi, tetapi kualitasnya masih rendah. Rendemen sawit Bengkulu rata-rata masih di bawah 20 persen, sedangkan provinsi tetangga sudah mencapai lebih dari 22 persen. Kondisi ini berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani," katanya.

Pelatihan Modern dengan Sistem Digital dan Dukungan ISPO

Keunggulan program ini terletak pada penggunaan Learning Management System (LMS) berbasis digital. Setiap peserta mendapatkan akun pribadi untuk mengikuti pre-test, post-test, hingga konsultasi teknis dengan instruktur secara daring.

"Setiap peserta memiliki akun sendiri. Kami ingin memastikan pelatihan berjalan modern, terukur, dan berkelanjutan. Setelah pelatihan selesai, peserta tetap bisa berkonsultasi dengan instruktur melalui platform digital," terang Gema.

Selain itu, DG Learning Institute telah menjadi lembaga pelatihan yang mendukung implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Hal ini sejalan dengan upaya mewujudkan industri kelapa sawit yang berkelanjutan di Indonesia.

Bengkulu Jadi Prioritas karena Potensi Sawit Besar

Gema mengungkapkan, lembaganya mendapat mandat melaksanakan program pengembangan SDM perkebunan di lima provinsi, yakni Aceh, Sulawesi Tengah, Banten, Bengkulu, dan Jambi. Dari lima wilayah tersebut, Bengkulu menjadi daerah dengan jumlah peserta terbesar.

"Pemilihan Bengkulu dilakukan berdasarkan hasil penilaian dan rekomendasi tim komite program. Potensi sawit di Bengkulu sangat besar sehingga menjadi prioritas dalam peningkatan kapasitas SDM petani," jelasnya.

Serlin berharap para peserta menjadi agen perubahan di daerah masing-masing. Ilmu yang diperoleh selama pelatihan wajib dibagikan kepada anggota kelompok tani dan petani lain agar kualitas sawit Bengkulu meningkat secara bersama-sama.

"Ilmu yang diperoleh jangan berhenti pada peserta saja. Bagikan kepada anggota kelompok tani, tetangga, maupun petani lain agar kualitas sawit Bengkulu meningkat secara bersama-sama," ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, turut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Pelatihan berlangsung selama satu pekan dengan instruktur yang memiliki latar belakang akademisi sekaligus praktisi perkebunan.

Reporter: Ragil
Sumber: teropongpublik.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top