Ekspor Bengkulu Semester I 2026 Anjlok 91,51 Persen, Batubara Masih Jadi Penopang Utama

Penulis: Saiful  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:56:31 WIB
Ekspor Provinsi Bengkulu pada semester I 2026 anjlok 91,51 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

BENGKULU — Sepanjang Januari hingga Juni 2026, hampir seluruh ekspor Provinsi Bengkulu berasal dari komoditas nonmigas, dengan batubara mendominasi. Sementara itu, sektor industri pengolahan yang selama ini menjadi tulang punggung diversifikasi justru mengalami kontraksi paling parah dibanding sektor lainnya.

Data BPS menunjukkan penurunan ekspor industri pengolahan mencapai 91,51 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Angka ini menjadi yang terdalam dan menandakan belum adanya pemulihan berarti di sektor manufaktur daerah.

Kelompok Komoditas yang Nihil Ekspor

Beberapa golongan barang bahkan tidak lagi mencatatkan aktivitas ekspor sama sekali. Kelompok berbagai barang buatan pabrik, buah-buahan, produk olahan dari tepung, serta plastik dan barang dari plastik seluruhnya turun 100 persen.

Kondisi ini berbeda jauh dengan tahun-tahun sebelumnya ketika komoditas olahan masih memberikan kontribusi terhadap neraca perdagangan luar negeri Bengkulu.

Mengapa Ekspor Manufaktur Merosot Tajam?

Belum ada pernyataan resmi dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bengkulu mengenai penyebab pasti kemerosotan ini. Namun, tren penurunan ekspor manufaktur biasanya dipengaruhi oleh melemahnya permintaan pasar internasional, tingginya biaya logistik, serta minimnya daya saing produk olahan lokal.

Di sisi lain, aktivitas pertambangan batubara justru masih berjalan normal dan menjadi penyumbang utama nilai ekspor kumulatif daerah.

Apa Dampaknya bagi Perekonomian Bengkulu?

Ketergantungan yang semakin tinggi pada satu komoditas membuat pendapatan daerah rentan terhadap fluktuasi harga batubara global. Jika harga anjlok, penerimaan ekspor Bengkulu bisa ikut terpukul tanpa ada sektor lain yang menopang.

Meski nilai ekspor pada Juni 2026 sempat melonjak dibanding bulan sebelumnya, perbaikan itu belum cukup untuk menutup jurang penurunan yang terjadi selama enam bulan berjalan.

Pemerintah daerah diharapkan segera mengevaluasi kebijakan hilirisasi dan insentif bagi pelaku industri pengolahan agar sektor manufaktur bisa kembali berkontribusi terhadap kinerja ekspor Bengkulu pada semester kedua 2026.

Reporter: Saiful
Sumber: rakyatbengkulu.disway.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top