Trump Ancam Balikkan Skema Biaya Selat Hormuz, Iran Tetap Tutup Jalur Minyak Dunia

Penulis: Saiful  •  Selasa, 04 Agustus 2026 | 11:09:01 WIB
Trump menyampaikan pernyataan tegas terkait Selat Hormuz dalam konferensi pers di Washington.

BENGKULU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan pihaknya tidak akan memberi ruang bagi Iran untuk menarik biaya dari kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang dirilis Selasa (4/8), Trump menyebut jika pungutan harus diberlakukan, maka Amerika Serikat yang akan melaksanakannya.

"Harus begitu. Saya tidak akan membiarkan mereka mengenakan biaya. Jika ada pihak yang akan mengenakan biaya, kami yang akan melakukannya," kata Trump seperti dilansir ANTARA.

Pernyataan itu muncul saat Trump menjawab pertanyaan mengenai kemungkinan Iran membuka kembali akses pelayaran bebas di perairan strategis tersebut. Sikap tegas ini memperpanjang daftar ketegangan antara kedua negara yang kembali memanas dalam dua pekan terakhir.

Gencatan Senjata Runtuh, Serangan Berbalasan Mengguncang Timur Tengah

Eskalasi terbaru berawal dari nota kesepahaman yang ditandatangani Washington dan Teheran pada 18 Juni untuk mengakhiri konflik yang dimulai 28 Februari. Namun kesepakatan itu hanya bertahan tiga pekan. Trump mendeklarasikan gencatan senjata tidak lagi berlaku pada 8 Juli.

Setelah deklarasi tersebut, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan gelombang serangan ke sejumlah target di Iran. Militer AS menyebut operasi itu sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Iran membalas dengan menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Timur Tengah.

Penutupan Total dan Klaim "Penjaga" dari Gedung Putih

Teheran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada 12 Juli. Keputusan itu diambil dengan syarat Amerika Serikat menghentikan seluruh campur tangan di kawasan tersebut. Keesokan harinya, Trump menyatakan Amerika Serikat akan menjadi "penjaga" Selat Hormuz dan memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur laut yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Penutupan jalur ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dan memicu lonjakan harga komoditas di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih mengimpor minyak mentah dalam jumlah signifikan.

Risiko bagi Stabilitas Harga Energi Domestik

Bagi Indonesia, ketegangan di Selat Hormuz menjadi sinyal waspada bagi stabilitas harga energi dalam negeri. Setiap gangguan di jalur tersebut berdampak langsung pada biaya pengiriman minyak dari Timur Tengah, yang menjadi pemasok utama kebutuhan impor Indonesia.

Belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai potensi dampak konflik ini terhadap harga BBM di dalam negeri. Namun pengalaman pada eskalasi sebelumnya menunjukkan bahwa premi asuransi pengiriman dan biaya logistik langsung naik dalam hitungan hari setelah ketegangan meningkat.

Diplomasi Indonesia di forum internasional diperkirakan akan kembali diuji untuk mendorong deeskalasi, mengingat posisi Selat Hormuz yang vital bagi keamanan energi nasional dan global.

Reporter: Saiful
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top