Masjid Jamik di Jalan Letjend Suprapto, Kelurahan Tengah Padang, Kecamatan Ratu Samban, Kota Bengkulu, masih berdiri kokoh sebagai bangunan cagar budaya yang dirancang langsung oleh Presiden pertama RI Ir. Soekarno. Atap tumpang berwarna merah menjadi ciri khas arsitektur masjid yang dibangun saat Bung Karno menjalani pengasingan di Bengkulu tersebut. Hingga kini, masjid ini tidak hanya menjadi lokasi ibadah rutin warga, tetapi juga tujuan kunjungan jamaah dari berbagai daerah.
BENGKULU — Masjid Jamik menyimpan jejak sejarah panjang bagi masyarakat Kota Bengkulu. Bangunan yang berada di Jalan Letjend Suprapto, Kelurahan Tengah Padang, Kecamatan Ratu Samban, itu dirancang oleh Ir. Soekarno ketika menjalani pengasingan di Bengkulu. Penanda sejarah yang terpasang di depan masjid mencatat peran Bung Karno dalam perancangan bangunan tersebut.
Bahrudin, pengurus Masjid Jamik, menyebut hampir seluruh jamaah mengetahui latar belakang sejarah bangunan yang mereka tempati untuk beribadah. Informasi itu juga tercantum pada penanda sejarah di halaman depan masjid.
Arsitektur Atap Tumpang dan Kunjungan dari Luar Daerah
Ciri khas Masjid Jamik terlihat dari atap tumpang berwarna merah yang menjadi bagian dari arsitektur bangunan bersejarah itu. Bentuk atap tersebut membedakan Masjid Jamik dari masjid lain di Kota Bengkulu.
Nilai sejarah bangunan memengaruhi cara masyarakat memperlakukan masjid ini. Banyak pengunjung dari luar daerah, seperti jamaah dari Sumatera Selatan dan Jambi, datang khusus untuk melihat langsung arsitektur rancangan Bung Karno. Sebagian pengunjung juga berfoto di dekat penanda sejarah masjid.
“Setiap pejabat pusat yang mengunjungi Bengkulu, insyaallah mereka salat di Jamik. Contohnya Wakil Menteri Haji yang baru-baru ini beliau salat di Jamik,” ujar Bahrudin.
Tradisi Serapal Anam dan Salat Tasbih yang Masih Berjalan
Selain kegiatan ibadah rutin, pengurus masjid melestarikan tradisi lama bernama Serapal Anam. Kegiatan itu berisi puji-pujian terhadap Nabi dan para sahabatnya. Pelaksanaannya rutin pada Minggu kedua dan keempat setiap bulan.
Ada pula kegiatan salat Tasbih yang dilakukan ibu-ibu majelis taklim se-Kota Bengkulu. Salat Tasbih digelar pada Jumat pertama setiap bulan.
Bagi Bahrudin, status Masjid Jamik sebagai cagar budaya merupakan tanggung jawab besar yang harus dijaga bersama. Tanggung jawab itu mencakup fisik bangunan maupun tradisi keagamaan yang telah berlangsung turun-temurun.
“Masjid ini masjid bersejarah yang dirancang langsung oleh Ir. Bung Karno pada waktu beliau pengasingan di Bengkulu. Tentunya ini harus dijaga, tidak boleh diubah. Kemudian tradisi-tradisi yang lama itu harus kita kembangkan,” ujarnya.
Harapan Pengurus agar Nilai Sejarah Terus Ditingkatkan
Bahrudin berharap pengurus yang nantinya melanjutkan pengelolaan Masjid Jamik tetap menjaga nilai sejarah dan kegiatan keagamaan di dalamnya. Menurut dia, pengelola berikutnya juga perlu terus meningkatkan nilai-nilai sejarah yang ada di Bengkulu pada masa pendirian masjid.
“Harapan kita, masjid ini tetap terjaga, karena sudah ditetapkan pemerintah sebagai masjid cagar budaya. Tapi karena ini masjid bersejarah, tentunya mereka harus terus meningkatkan nilai-nilai sejarah yang ada di Bengkulu pada waktu pendirian masjid ini,” ujarnya.
Masjid Jamik kini menjadi salah satu bangunan cagar budaya di Kota Bengkulu yang memadukan fungsi ibadah dan pelestarian sejarah. Statusnya sebagai masjid bersejarah membuat pengelolaan bangunan ini tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga warisan arsitektur rancangan Bung Karno.