BENGKULU — Anak sering ikut penasaran saat melihat ibu dan ayah makan sambal atau makanan berbumbu kuat. Sebenarnya tidak ada patokan usia baku untuk mengenalkan rasa pedas pada anak, tetapi ada tahapan yang perlu diperhatikan agar pengalaman makan pertamanya tetap nyaman. Simak panduan lengkapnya, mulai dari rempah aman hingga tanda bahaya yang perlu diwaspadai.
Banyak ibu memilih menunda pemberian makanan pedas dan berbumbu rempah sampai anak berusia di atas 1 tahun. Alasannya masuk akal: sistem pencernaan anak di usia dini belum berkembang sepenuhnya, sehingga makanan yang terlalu tajam rasanya berisiko menimbulkan ketidaknyamanan.
Pada dasarnya tidak ada aturan baku yang mengharuskan anak menunggu usia tertentu untuk mengenal rasa rempah dan bumbu. Mengutip Baby Center, ibu bisa mulai memperkenalkan berbagai rempah begitu bayi siap makan makanan yang dapat dipegang sendiri, umumnya di usia 8 hingga 10 bulan.
Rempah yang dimaksud misalnya kunyit dan jintan, herba seperti basil, oregano, dan thyme, atau sedikit bahan bercita rasa kuat seperti bawang bombai, bawang putih, dan jahe. Semua bahan ini bukan hanya menambah rasa, tapi juga tekstur dan warna pada makanan bayi.
Yang perlu ditunggu hingga anak berusia minimal 1 tahun adalah bumbu dengan rasa lebih kuat seperti kari dan cabai. Anak di bawah usia 1 tahun masih dalam tahap mengenal makanan dasar dan lebih rentan mengalami reaksi serta sensitivitas terhadap makanan.
Kesiapan makan anak, jenis bahan yang dipakai, dan seberapa pedas makanan tersebut jadi tiga hal utama yang perlu dicek. Sesuaikan juga porsinya, karena makanan yang terlalu pedas sebaiknya tidak langsung diberikan dalam jumlah banyak.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa makanan bayi pada tahap awal sebaiknya memiliki tekstur dan rasa yang disesuaikan dengan kemampuan anak. Makanan awal tidak perlu terlalu tajam atau terlalu berbumbu. Setelah usia 1 tahun, anak sudah bisa mulai diberikan makanan keluarga dengan tekstur yang disesuaikan.
Tak hanya cabai, anak juga bisa diperkenalkan secara bertahap pada berbagai bumbu dan rempah yang memberi rasa serta aroma khas. Berikut beberapa bahan yang dapat digunakan dalam jumlah kecil:
Cabai mengandung capsaicin, senyawa yang menimbulkan sensasi panas atau pedas. Cabai bisa dikenalkan dalam jumlah sangat sedikit ketika anak sudah siap makan makanan padat. Perhatikan respons anak setelah mencobanya. Jika ia tampak tidak nyaman atau sakit perut, jangan paksa ia menghabiskan makanannya.
Paprika, terutama jenis yang tidak pedas, bisa jadi pilihan untuk mengenalkan rasa dan aroma khas keluarga tanaman cabai tanpa sensasi panas yang kuat. Sedikit paprika dapat dimasukkan ke dalam tumisan, sup, telur, atau makanan yang teksturnya sudah sesuai kemampuan anak.
Lada dapat dipakai sebagai bumbu dalam jumlah sedikit untuk memberi rasa gurih dan hangat pada makanan. Hindari penggunaan lada yang terlalu banyak pada makanan si kecil.
Jahe tidak memberi sensasi pedas seperti cabai, tetapi punya rasa hangat dan aroma yang kuat. Tambahan sedikit jahe bisa dipakai untuk memberi cita rasa pada masakan anak.
Bawang putih, kunyit, ketumbar, kayu manis, atau rempah lain dapat digunakan untuk memperkenalkan anak pada beragam rasa alami. Mengutip Solid Starts, rempah bisa dikenalkan ketika bayi sudah siap memulai makanan padat. Untuk rempah yang memberi sensasi pedas seperti cabai atau bubuk cabai, jumlahnya sebaiknya sangat sedikit pada awal pengenalan.
Jika ingin mengenalkan cabai atau makanan pedas, mulailah dengan rasa yang sangat ringan. Tidak perlu mengejar tingkat kepedasan tertentu. Makanan pedas dalam jumlah berlebihan tidak selalu menimbulkan masalah pada setiap anak, tetapi sensasi panas dari capsaicin bisa membuat sebagian anak merasa tidak nyaman, terutama jika belum terbiasa.
Beberapa keluhan yang mungkin muncul antara lain mulut dan tenggorokan terasa terbakar, sakit perut, serta mual atau diare. Pada anak yang belum terbiasa, sensasi terbakar di mulut bisa membuat pengalaman makan jadi tidak menyenangkan atau bahkan menimbulkan trauma.
Segera hentikan pemberian makanan pedas dan konsultasikan ke dokter anak jika si kecil mengalami diare berkepanjangan, muntah terus-menerus, ruam kulit, atau pembengkakan pada wajah dan bibir setelah makan. Reaksi alergi makanan bisa muncul kapan saja, termasuk saat pertama kali anak mencoba bumbu atau rempah baru.
Mengenalkan rasa pedas pada anak sebaiknya dilakukan perlahan dan penuh perhatian pada responsnya. Dengan begitu, anak bisa menikmati beragam rasa makanan keluarga tanpa pengalaman makan yang menakutkan.